Investasi EV Indonesia Dikejar TKDN, Industri Lokal Masuk Babak Penentuan Investasi kendaraan listrik di Indonesia memasuki tahap yang semakin penting pada 2026. Kehadiran pabrik kendaraan baru, produksi sel baterai di dalam negeri, pengembangan material baterai, serta semakin banyaknya pemasok lokal membuat Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar bagi mobil listrik impor.
Tekanan berikutnya datang dari target Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023, kendaraan listrik berbasis baterai roda empat atau lebih wajib memenuhi TKDN minimum 40 persen sepanjang 2022 sampai 2026. Angka tersebut meningkat menjadi minimum 60 persen pada 2027 sampai 2029, kemudian 80 persen mulai 2030.
Dengan hanya beberapa bulan menuju 2027, produsen tidak mempunyai ruang terlalu panjang untuk mengandalkan proses perakitan sederhana. Mereka perlu memperbesar penggunaan baterai, komponen listrik, struktur kendaraan, interior, perangkat elektronik, serta jasa manufaktur yang berasal dari dalam negeri.
Kementerian Perindustrian menyebut sejumlah kendaraan listrik buatan Indonesia bahkan sudah mencatat TKDN lebih dari 60 persen pada pertengahan 2026. Namun, pemerintah juga mengakui bahwa tingginya TKDN produk akhir belum selalu berarti seluruh teknologi produksinya telah dikuasai industri nasional. Banyak mesin dan peralatan pabrik masih berasal dari impor.
Tahun 2026 Menjadi Batas Terakhir TKDN 40 Persen
Aturan mengenai kandungan lokal kendaraan listrik dibuat secara bertahap agar produsen memiliki waktu membangun rantai pemasok.
Untuk mobil listrik berbasis baterai roda empat atau lebih, batas minimum 40 persen berlaku sampai akhir 2026. Mulai 2027, target melonjak menjadi 60 persen.
Kenaikan 20 poin persentase dalam satu tahap bukan perubahan kecil.
Produsen yang baru mendirikan pabrik tidak cukup hanya memindahkan proses perakitan akhir ke Indonesia. Mereka harus mencari lebih banyak komponen yang dapat diproduksi lokal, membangun pemasok, melakukan transfer teknologi, serta memastikan produk dari pemasok Indonesia memenuhi standar kualitas global.
Target kemudian naik lagi menjadi 80 persen mulai 2030.
Artinya, arah kebijakan pemerintah cukup jelas. Insentif investasi diharapkan menjadi pintu masuk, tetapi kegiatan industri secara bertahap harus bergerak menuju produksi yang semakin dalam di Indonesia.
“Menurut penulis, ukuran keberhasilan investasi EV tidak cukup dilihat dari jumlah merek yang mempunyai pabrik. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa banyak nilai kendaraan benar benar diciptakan oleh industri di Indonesia.”
BYD Subang Menjadi Contoh Peralihan dari Impor ke Produksi Lokal
Perubahan tersebut terlihat jelas pada BYD.
Fasilitas manufaktur BYD di Subang, Jawa Barat, resmi beroperasi pada 3 September 2026. Setelah pabrik tersebut berjalan, BYD Indonesia menyatakan tidak lagi mengimpor kendaraan secara utuh untuk pasokan baru dan akan berkonsentrasi pada produksi domestik.
Pabrik Subang juga menjadi salah satu proyek investasi otomotif terbesar yang masuk ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
BKPM sebelumnya mencatat rencana kapasitas awal sekitar 150 ribu kendaraan per tahun. Area pabrik dikembangkan hingga sekitar 126 hektare dan disiapkan bukan hanya untuk memenuhi pasar domestik, tetapi juga membuka peluang ekspor.
Pada saat peresmian, BYD menyebut sekitar 5.000 tenaga kerja lokal sudah terlibat dalam fasilitas tersebut.
Langkah berikutnya adalah memperbesar kandungan lokal.
Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao menyatakan perusahaan mempersiapkan kegiatan terkait manufaktur dan perakitan baterai di Indonesia. BYD optimistis dapat memenuhi TKDN 60 persen mulai Januari 2027.
Target 60 Persen Membuat Baterai Semakin Penting
Baterai menjadi komponen strategis karena nilainya merupakan bagian besar dari biaya sebuah mobil listrik.
Apabila sel, modul, dan paket baterai masih sepenuhnya berasal dari luar negeri, produsen akan lebih sulit memperbesar kandungan lokal secara signifikan.
Indonesia sudah mempunyai modal penting melalui PT HLI Green Power di Karawang, Jawa Barat.
Pabrik hasil kerja sama Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution tersebut telah beroperasi dengan kapasitas produksi sekitar 10 GWh per tahun. Kapasitas tersebut diperkirakan cukup untuk memasok baterai sekitar 150 ribu sampai 170 ribu kendaraan.
Keberadaan fasilitas sel baterai membuat Indonesia bergerak lebih jauh dibandingkan negara yang hanya melakukan perakitan battery pack.
Sel merupakan bagian inti yang menyimpan energi. Sel kemudian disusun menjadi modul dan selanjutnya menjadi paket baterai yang dipasang pada kendaraan.
Semakin banyak bagian proses tersebut dilakukan di Indonesia, semakin besar peluang nilai lokal bertambah.
Pabrik CATIB Karawang Menambah Kapasitas Sel Baterai
Ekosistem baterai kembali bertambah melalui fasilitas PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery atau CATIB di Karawang.
Pada 21 Agustus 2026, Kementerian ESDM menyampaikan pembangunan pabrik sel baterai berkapasitas 6,9 GWh per tahun telah selesai. Fasilitas tersebut bahkan disebut sudah mulai beroperasi secara bertahap sambil menunggu jadwal peresmian.
Proyek ini merupakan kerja sama Indonesia Battery Corporation dengan konsorsium CATL, Brunp, dan Lygend.
Nilai investasi fasilitas Karawang sebelumnya disebut sekitar Rp7 triliun dengan potensi penyerapan sekitar 3.000 pekerja. Selain baterai kendaraan, fasilitas tersebut juga dirancang memproduksi baterai untuk sistem penyimpanan energi.
Kehadiran lebih dari satu produsen sel baterai penting bagi industri otomotif.
Produsen kendaraan membutuhkan pilihan pemasok, kapasitas besar, harga yang kompetitif, serta kemampuan menggunakan jenis sel berbeda sesuai kebutuhan produk.
Persaingan antarprodusen baterai juga dapat membantu mempercepat lokalisasi material dan proses pendukung.
Indonesia Tidak Bisa Berhenti pada Keunggulan Nikel
Indonesia sering disebut mempunyai posisi kuat dalam industri baterai karena memiliki cadangan nikel besar.
Namun, mempunyai mineral tidak otomatis berarti mempunyai industri kendaraan listrik yang dalam.
Nikel harus melalui beberapa tahap sebelum menjadi bagian dari baterai kendaraan. Pengolahan dapat mencakup smelter, fasilitas HPAL, produksi material prekursor, bahan katoda, sel, modul, sampai paket baterai.
Pada Juni 2026, BKPM juga membahas rencana Pure Battery Technologies untuk mengembangkan fasilitas precursor Cathode Active Material berbasis material yang dipasok dari fasilitas HPAL domestik. Pemerintah melihat tahap prekursor dan katoda sebagai bagian yang masih perlu diperkuat dalam rantai baterai nasional.
Pengembangan tahap tengah ini sangat penting.
Tanpa fasilitas tersebut, Indonesia dapat mempunyai bahan mentah serta pabrik kendaraan tetapi masih mengirim sebagian nilai tambah ke negara lain karena material baterai harus melewati proses lanjutan di luar negeri.
Proyek CATL Membentang dari Tambang hingga Daur Ulang
Kerja sama dengan grup CATL juga menunjukkan arah industri yang lebih luas.
BKPM mencatat konsorsium CATL, Brunp, dan Lygend bersama ANTAM serta Indonesia Battery Corporation mengembangkan rantai industri baterai terintegrasi.
Rangkaian proyek meliputi pertambangan, smelter, material baterai seperti prekursor dan katoda, produksi sel, serta daur ulang. Lokasinya tersebar antara Halmahera Timur di Maluku Utara dan Karawang di Jawa Barat. Nilai investasinya diperkirakan mencapai sekitar 6 miliar dolar AS.
Model seperti ini memberikan keuntungan karena satu negara dapat menangkap nilai pada lebih banyak tahap.
Indonesia tidak hanya menjual nikel, kemudian membeli kembali baterai dengan harga lebih mahal.
Namun, integrasi tersebut membutuhkan investasi besar, energi, teknologi tinggi, tenaga terampil, dan standar lingkungan yang ketat.
Semakin kompleks produknya, semakin tinggi pula kebutuhan kemampuan industri.
Industri Komponen Lokal Harus Ikut Naik Kelas
TKDN kendaraan listrik tidak hanya berasal dari baterai.
Sebuah mobil terdiri atas ribuan bagian. Struktur bodi, kaca, ban, jok, kabel, sistem pendingin, suspensi, rem, komponen interior, perangkat pengisian, elektronik, hingga berbagai komponen plastik dapat menjadi bagian dari kandungan lokal.
Kementerian Perindustrian sepanjang 2026 memperkuat upaya agar industri kecil dan menengah otomotif dapat masuk ke rantai pemasok kendaraan listrik.
Kemenperin menyebut keterlibatan IKM diperlukan agar kenaikan TKDN tidak hanya dinikmati perusahaan besar. Pemerintah mempertemukan produsen kendaraan listrik dengan pelaku industri komponen untuk membuka peluang pemasokan langsung.
Masalahnya, masuk ke rantai pemasok otomotif tidak sederhana.
Produsen harus memenuhi toleransi ukuran yang ketat, kualitas stabil, kapasitas produksi, ketepatan waktu pengiriman, dokumentasi, standar keselamatan, serta kemampuan menekan cacat produksi.
Pemasok yang hanya mampu membuat komponen dalam jumlah kecil belum tentu dapat langsung memenuhi kebutuhan pabrik yang memproduksi puluhan ribu kendaraan per tahun.
Motor Listrik dan Inverter Menjadi Area yang Perlu Diperkuat
Salah satu tantangan berikutnya berada pada komponen bernilai teknologi tinggi.
Motor listrik mengubah energi listrik menjadi gerakan. Inverter mengatur arus dari baterai menuju motor. Battery Management System mengawasi kondisi sel, suhu, tegangan, serta pengisian baterai.
Komponen tersebut mempunyai nilai besar dan membutuhkan kemampuan rekayasa tinggi.
Jika bagian seperti motor, inverter, kontrol elektronik, dan semikonduktor tetap banyak diimpor, angka TKDN dapat ditingkatkan melalui bagian lain, tetapi kedalaman teknologi nasional belum tentu bertambah dengan kecepatan yang sama.
Karena itu, target 60 persen dan 80 persen pada akhirnya akan memaksa produsen mencari lokalisasi di area yang lebih sulit.
Pekerjaan pada tahap berikutnya tidak lagi sekadar membuat jok, kabel sederhana, atau panel bodi. Industri harus semakin banyak masuk ke perangkat elektronik daya dan komponen inti penggerak listrik.
Mesin Produksi Masih Menjadi Titik Lemah
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui kelemahan lain yang sering luput ketika membahas angka TKDN.
Sebuah kendaraan dapat mempunyai kandungan lokal tinggi, tetapi pabrik yang membuatnya masih menggunakan banyak mesin produksi impor.
Kemenperin karena itu mulai mendorong pengembangan industri pembuat mesin melalui Indonesia Manufacturing Center di Purwakarta. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan dalam rekayasa dan pembuatan mesin industri.
Persoalan mesin mempunyai hubungan langsung dengan kemandirian manufaktur.
Jika peralatan utama selalu dibeli dari luar negeri, investasi pabrik baru masih membutuhkan pengeluaran devisa besar dan perusahaan lokal tidak memperoleh seluruh pengetahuan mengenai bagaimana lini produksi dibangun.
Mengembangkan mesin sendiri tentu jauh lebih sulit daripada memproduksi komponen sederhana.
Namun, kemampuan tersebut dapat menentukan apakah Indonesia hanya menjadi lokasi produksi atau berkembang menjadi pusat rekayasa manufaktur.
Toyota Ikut Memperdalam Produksi Baterai Lokal
Investasi baterai tidak hanya diarahkan pada mobil listrik berbasis baterai murni.
Toyota Motor Manufacturing Indonesia pada April 2026 mengumumkan kerja sama dengan CATL untuk memperkuat produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia.
TMMIN mengalokasikan investasi sekitar Rp1,3 triliun. Perusahaan ingin memperluas kemampuan yang sebelumnya berada pada produksi battery pack menuju produksi modul dan sel baterai.
Saat ini, Toyota telah memproduksi battery pack untuk sejumlah kendaraan elektrifikasi buatan Indonesia.
Rencana lokalisasi sel dan modul memperlihatkan bahwa kemampuan baterai dapat digunakan oleh lebih dari satu jenis kendaraan.
Hal ini juga penting bagi pemasok lokal karena volume produksi menjadi lebih besar ketika fasilitas tidak hanya bergantung pada satu model.
Pemerintah Mulai Mengkaji Insentif Berdasarkan TKDN
Pada awal September 2026, pemerintah memberikan sinyal bahwa kebijakan insentif kendaraan listrik dapat semakin dihubungkan dengan kandungan lokal.
Menteri Perindustrian mengatakan pemerintah mulai menghitung dan mempelajari skema insentif yang menggunakan penguatan nilai TKDN sebagai salah satu basis.
Pembahasan ini menarik karena selama fase awal, insentif diperlukan untuk menarik perusahaan mendirikan fasilitas produksi.
Pemerintah bahkan menyediakan fasilitas untuk impor kendaraan listrik utuh kepada perusahaan yang memenuhi persyaratan investasi tertentu. Dasarnya antara lain Peraturan BKPM Nomor 6 Tahun 2023 serta pengaturan fiskal terkait insentif impor.
Tahap berikutnya berbeda.
Setelah pabrik mulai berdiri, kebijakan dapat diarahkan agar manfaat lebih besar diterima produsen yang melakukan lokalisasi lebih dalam.
Skema tersebut berpotensi membuat persaingan tidak hanya mengenai jumlah kendaraan yang dijual, tetapi juga investasi yang benar benar masuk ke rantai industri Indonesia.
BYD Menjadi Ujian Langsung Target 2027
Pabrik BYD di Subang menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai bagaimana kebijakan tersebut bekerja.
Perusahaan sebelumnya dapat memasukkan kendaraan secara utuh sambil menyelesaikan fasilitas produksi. Setelah pabrik beroperasi, BYD menyatakan menghentikan impor CBU untuk pasokan baru.
Perusahaan kini berhadapan dengan target TKDN minimum 60 persen mulai 2027.
BYD menyatakan optimistis dapat memenuhi angka tersebut sejak Januari dengan memperbesar kandungan lokal serta menyiapkan aktivitas manufaktur terkait baterai.
Keberhasilan proses itu akan menjadi contoh penting bagi produsen lain yang masuk melalui jalur investasi serupa.
Jika produsen mampu berpindah dari impor menuju produksi lokal dalam waktu yang telah ditetapkan, kebijakan insentif dapat menghasilkan fasilitas manufaktur nyata.
SDM Lokal Harus Mengikuti Kecepatan Investasi
Pabrik kendaraan dan baterai baru membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan berbeda dari manufaktur otomotif konvensional.
Teknisi perlu memahami sistem tegangan tinggi. Operator baterai harus bekerja dengan prosedur keselamatan ketat. Insinyur membutuhkan kompetensi elektronik daya, perangkat lunak, sistem termal, kimia baterai, dan otomasi.
Kementerian Perindustrian telah memiliki standar kompetensi kerja untuk servis kendaraan elektrifikasi, yang menjadi salah satu dasar pengembangan tenaga kerja pada sektor tersebut.
Transfer pengetahuan juga mulai dilakukan perusahaan.
CATIB, misalnya, sebelumnya menyampaikan bahwa pekerja Indonesia dikirim ke China untuk memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan dalam operasi fasilitas baterai.
Ketersediaan tenaga kerja terampil akan menentukan seberapa cepat posisi pekerja lokal bergerak dari operator menuju teknisi, insinyur, pengembang proses, dan perancang teknologi.
TKDN Tinggi Tidak Boleh Sekadar Mengejar Angka
Target kandungan lokal mempunyai fungsi penting untuk menjaga agar investasi menghasilkan aktivitas ekonomi di Indonesia.
Namun, angka TKDN juga perlu dibaca bersama kualitas kandungan tersebut.
Dua kendaraan dapat memiliki persentase lokal yang mirip tetapi struktur komponennya berbeda. Satu mungkin sudah memakai baterai, motor, dan elektronik buatan lokal, sementara kendaraan lain memperoleh nilai dari komponen yang secara teknologi lebih sederhana.
Karena itu, kenaikan TKDN perlu dibarengi penguasaan komponen strategis.
Pemerintah juga memperbarui sistem sertifikasi TKDN melalui Permenperin Nomor 35 Tahun 2026 serta sejumlah petunjuk teknis terkait penghitungan komponen industri.
Penghitungan yang jelas dibutuhkan agar angka kandungan lokal dapat benar benar mencerminkan nilai yang diciptakan di dalam negeri.
“Target 80 persen akan bernilai besar apabila kenaikannya diikuti kemampuan membuat baterai, motor listrik, perangkat elektronik, perangkat lunak, dan mesin produksi, bukan hanya mengganti komponen sederhana dengan produk lokal.”
Kapasitas Industri Mulai Terbentuk sebelum Target 60 Persen Berlaku
Indonesia memasuki akhir 2026 dengan posisi yang jauh berbeda dibandingkan ketika program kendaraan listrik pertama kali dipercepat.
HLI Green Power telah memproduksi sel baterai dengan kapasitas 10 GWh. Pabrik CATIB berkapasitas 6,9 GWh di Karawang telah selesai dibangun dan mulai bergerak secara bertahap. BYD telah mengoperasikan fasilitas manufaktur di Subang. Industri battery pack juga telah berkembang, sementara investasi material baterai terus diperluas.
Di sisi pasar, penjualan kendaraan listrik berbasis baterai juga tumbuh cepat. Kemenperin mencatat penjualan mobil listrik pada kuartal pertama 2026 mencapai 33.150 unit, naik 95,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Volume pasar diperlukan agar pemasok lokal mempunyai kepastian permintaan.
Sebuah pabrik komponen sulit melakukan investasi mahal apabila jumlah kendaraan yang akan menggunakan produknya terlalu sedikit.
Pertumbuhan penjualan kemudian menjadi pasangan penting dari kebijakan TKDN.
Tantangan Berikutnya Berada pada Skala dan Harga
Membuat komponen di Indonesia belum otomatis membuat harganya lebih murah.
Pada tahap awal, pemasok lokal dapat mempunyai volume kecil sehingga biaya per unit masih tinggi. Pabrikan besar juga membandingkan harga pemasok Indonesia dengan pemasok regional yang telah berproduksi dalam skala jutaan unit.
Inilah sebabnya investasi kendaraan dalam jumlah besar mempunyai peran penting.
Semakin banyak merek memproduksi kendaraan di Indonesia, semakin besar peluang satu pemasok melayani beberapa produsen sekaligus.
Volume tersebut memungkinkan perusahaan membeli mesin yang lebih baik, meningkatkan otomatisasi, dan menekan biaya.
Target TKDN 60 persen pada 2027 kemudian menjadi bukan hanya kewajiban produsen kendaraan, tetapi juga ujian apakah rantai pemasok Indonesia mampu memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar dengan kualitas serta harga yang kompetitif.
Tahun 2030 Membawa Target 80 Persen
Setelah industri melewati batas 60 persen pada 2027, target berikutnya sudah menunggu.
Perpres Nomor 79 Tahun 2023 menetapkan TKDN minimum 80 persen untuk kendaraan listrik roda empat atau lebih mulai 2030.
Menteri Perindustrian pada 3 September 2026 kembali menegaskan pemerintah mengupayakan TKDN kendaraan listrik mencapai 80 persen pada 2030. Tujuannya agar investasi tidak berhenti di aktivitas perakitan, melainkan memperbesar industri komponen dan rantai pasok domestik.
Empat tahun menuju target tersebut akan menentukan bagian mana dari teknologi EV yang benar benar dapat dibuat di Indonesia.
Baterai sudah menunjukkan kemajuan cukup cepat. Pekerjaan berikutnya berada pada motor listrik, inverter, elektronik daya, sistem kontrol, komponen termal, material, perangkat lunak kendaraan, hingga mesin manufaktur.
Semakin banyak bagian tersebut dibuat dan dikembangkan oleh tenaga kerja serta perusahaan di Indonesia, semakin besar nilai investasi EV yang tertahan di dalam negeri ketika jutaan kendaraan elektrifikasi mulai keluar dari lini produksi pabrik nasional.






